| *Satria Baja Karatan |
Dulu waktu kecil, kita semua (cowok) pasti suka sama yang namanya film robot-robotan. Nah, dulu itu gue ngefans banget sama yang namanya Kamen Rider atau lebih dikenal dengan satria baja hitam. Masa kanak-kanak gue itu menyenangkan dan bahagia. Disinilah masalahnya, saat gue mengalami pubertas, bukannya gue
bertambah dewasa dalam berpikir, tapi malah semakin kekanak-kanakan. Disaat temen-temen gue sudah mulai naksir sama lawan jenis, gue malah main kamen rider bareng temen-temen gue di sekolah
Awalnya semua baik-baik saja, tapi karena ada satu temen gue yang bernama Jimmy mengingatkan kembali gue tentang kamen rider, seketika itu pula gue menjadi maniak kembali dengan mereka.
Makin hari semakin parah, sampai akhirnya gue Louis, Valdo, & Jimmy bermain Kamen Rider di kelas. Gue dengan semangat menirukan gerakan-gerakan Kamen Rider. Gue berteriak, HENSHIN !!! seketika itu pula gue membayangkan jadi satria baja hitam, padahal lebih tepat disebut satria baja karatan karena gue gak punya kekuatan super, yang ada hanya kucuran ingus dan iler. Kita pun mulaii berantem-beranteman layaknya kesaktria.
Temen-temen gue pada saat itu menyapa gue dengan sebutan Kamen Rider Cimahi, gue sangat bangga dengan sebutan tersebut seperti gue mendapatkan pangkat jendral di TNI, padahal dalam hati mereka "Bruakakakak, Satria bocah ingusan, koplak !!!".
Tanpa gue sangka, kefanatikan akan kamen rider ini, terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya aja waktu gue pergi ke mall sama temen-temen. Waktu mereka main di Game Master, liat-liat barang ditoko, gue sibuk sendiri berpura-pura berubah kamen rider lalu memukul angin yang pada saat itu gue ibaratkan sebagai monster. Orang-orang yang ada di mall pun memperhatikan gue, gue menganggapnya sebagai ucapan terima kasih karena telah menjaga keamanan kota Bandung, padahal gue dianggap sebagai keledai rabies oleh mereka.
Waktu gue lagi jalan & naik angkot juga sama. Gue berlaga layaknya pahlawan dengan berencana mengusir pengamen yang ada di mobil angkot. Tapi niat itu gue urungkan, karena yang ada malah gue di pukul ukulelenya si pengamen.
Akhirnya gue sadar, dengan umur yang semakin menua dan wajah yang semakin berjerawat, gue harus berubah. Bukan berubah menjadi Kamen Rider, tapi jadi semakin dewasa dalam berpikir seperti kata pepatah "Tua itu pasti, tapi Dewasa adalah pilihan.". Sejak saat itu, gue sudah tidak lagi terikat dengan robot-robot besi tersebut.
Sekian & God Bless